Friday, December 20, 2013

Berjuang Meraih Mimpi

    Sejak pertama sekolah kelas dua, Mama bilang aku harus belajar dengan sungguh-sungguh supaya masuk 10 besar. Biasanya kan, kalau anak baru tidak pintar atau pintar tetapi masih belum bisa menyesuaikan diri dengan pelajaran yang ada di sekolah barunya. Tetapi, kalau aku bisa langsung memahami pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah. Aku pun dibelikan buku latihan soal oleh Mama. Oh ya, sebelum tidur di lantai atas, kan di lantai bawah tidak ada meja belajar. Maka, aku belajar di meja rias. Hehehe... Kalau mau belajar, harus menyediakan kursi, yaitu kursi dari meja makan.

    Aku mengisi soal yang ada di buku latihan soal lalu setelah selesai mengisi soal-soal itu, diperiksa oleh Mama. Sebagian besar, nilainya 100. Oh ya, walau waktu itu aku masih anak baru, tanpa diduga, ternyata aku masuk 10 besar. Malah, jadi ranking 4! Sudah baguslah! Akan tetapi, waktu kelas tiga, kelas 2A dan kelas 2B digabung menjadi satu kelas! Karena aku dari kelas 2B, aku merasa kalau kelas 2A itu pintar-pintar. Maksudnya, aku mengira kalau kelas 2A itu hanya untuk anak-anak pintar dan kelas 2B untuk anak-anak yang tidak terlalu pintar. Setelah menjadi satu kelas, ternyata enggak juga, sih. Ada yang bisa aku kalahkan nilainya. Alhasil, aku masuk 10 besar lagi, meskipun aku tidak tahu ranking keberapa. Yang pasti, namaku disebut oleh wali kelasku waktu kelas tiga kalau aku masuk 10 besar.

Sunday, November 24, 2013

Yang Aku Tunggu Ketika Mama Membuat Bubur

    Tiap pagi, Mama selalu pergi ke dapur untuk membuat bubur dari daging, nasi dan sayuran untuk dimakan Maira, adikku. Dan... Setiap saat itu, aku menunggu sesuatu, yaitu sisa bubur yang disaring. Aku suka sekali dengan bubur yang Mama buat. Rasanya enak, walau pakai sayuran brokoli, tetapi rasa dagingnya membuat buburnya tambah enak. Buburnya tidak memakai gula sedikitpun, tetapi rasanya manis karena buburnya memakai wortel.

Sunday, January 6, 2013

BANJIR

Aku mempunyai pengalaman saat aku masih berumur 5 tahun. Pengalamanku yaitu rasanya ketika banjir datang. Waktu itu, ketika di rumah sedang banjir, aku selalu di lantai 2. Makan di lantai 2, bermain di lantai 2, semuanya melakukan di lantai 2. Aku selalu minta untuk ke bawah. 

Hingga pada suatu hari, aku di ajak turun ke bawah. Aku senang sekali. Lalu aku mengambil sandal lamaku, lalu menuruni anak tangga. Kakiku masuk ke air. Dalamnya hanya semata kaki saja. Lalu, aku melewati lorong kecil menuju ruang tamu untuk mengintip dari balik jendela. Yang kulihat airnya seperutku dan banyak sampah. Aku bertanya, ”Mengapa bisa terjadi banjir? Kalau terjadi banjir, kenapa banyak sampahnya? “ Di sekelilingku tak ada yang menjawab.