Friday, May 30, 2014

Tour Kelas VI ke Pantai Legon

    Beberapa hari yang lalu, pada hari Senin, 26 Mei 2014, kelas VI tour ke Pantai Legon di Banten. Hari sebelumnya, yaitu hari Minggu, Mama membelikan banyak makanan ringan dan makaroni untuk bekal ku esok harinya. Oh ya, karena HP-ku baterainya cepat habis, maka SIM card-nya dipindahkan ke HP Kakak yang baterainya tahan lama. Aneh, padahal dulu HP-ku baterainya tahan lama, tapi semenjak kabel charger-nya rusak, jadi begitu, deh...

    Pagi-pagi aku bangun, dan segera mandi. Seusai mandi, aku sarapan. Semua kebutuhan sudah disiapkan sejak kemarin, kecuali makaroninya. Soalnya makaroni tersebut harus digoreng atau direbus terlebih dahulu. Kalau makaroni tersebut sudah direbus sejak kemarin, pasti enggak enak dimakan hari ini. Setelah sarapan, aku bersiap-siap untuk berangkat. Saat itu pukul setengah enam. Pagi, kan? Lalu, Riska seperti biasa datang ke rumahku. Setelah ngobrol sebentar, aku dan Riska diantar naik motor ke sekolah.

    Awalnya, aku kira bisnya sudah datang dan sudah banyak yang berkumpul. Tapi, nyatanya malah sebaliknya. Bisnya belum datang dan guru-guru pun tidak ada! Jangan-jangan enggak jadi, atau guru-guru ada urusan yang lain! Aku dan Riska turun dari motor, dan bertemu teman-teman yang lain. Lalu kami menunggu sambil ngobrol. Tiba-tiba ada Bu Aminah datang ke sekolah. Bu Aminah juga kebingungan, mana guru yang lain. Lalu, pada pukul setengah tujuh, teman-teman yang lain berjalan kaki ke arah kanan sekolah. Kami pun mengikutinya. Untunglah, ada sebuah bis dan para guru ada di dalamnya! Aku segera berlari mengejar teman-temanku. Bagaimanapun, aku ingin mendapat tempat duduk yang letaknya strategis. Dan pada akhirnya, aku mendapat tempat duduk ketiga paling belakang. Aku memang suka duduk di tempat belakang.
    Tempat duduk yang aku duduki itu untuk tiga orang, sementara yang duduk cuma aku dan Martina. Enak, enggak sempit. Di belakangku ada Sri dan Reyhan. Di depanku ada Pilah, Rizky. A., dan Dwi. Sementara, di sampingku ada sebuah pintu. Saat itu masih menunggu orang yang belum datang, dan Azizah belum datang. Nah, setelah Bu Guru mengabsen, bis mulai berjalan. Aku menanyakan Azizah kepada teman-teman. Mereka bilang aku enggak melihat dengan benar. Ternyata, Azizah sudah datang dari tadi dan duduk di barisan depan. Bis berangkat menuju Pantai Legon. Kata Pak Halim, kepala sekolahku sekarang, ada kolam renangnya. Aku jadi penasaran sama Pantai Legon. Soalnya aku baru mendengar nama pantai itu.
    Perjalanan menuju pantai sangat jauh. Aku jadi mengantuk. Akhirnya aku tidur sebentar, sementara Martina bergabung dengan Annisa di barisan paling depan bersama Azizah. Karena tempat duduk kosong, aku berbaring tidur sambil memakai topi. Bangkunya lumayan panjang untuk tiga orang. Berkali-kali aku dibangunkan oleh teman-temanku yang lain. Aku tidur kurang lebih 30 menit. Aku terbangun dan merasa sudah segar. Aku berdiri, melihat Martina masih di depan bersama Annisa. Aku malas ke depan. Sempit! Daipada enggak ada kerjaan, aku menonton Dwi dan Rizky. A. bermain PSP atau PlayStation Portable.
    "Mau minjam, Ashira?" tanya Dwi yang matanya asyik memelototi layar PSP. " Tapi, gampang error,".
    "Yaudah, biarin. Memang, PSP punya siapa?" tanyaku.
    "Punya Ian," jawab Dwi. Maksudnya Rizky. A.
Setelah bosan, aku mengembalikan PSP tersebut ke Rizky. A. Aku pun berjalan menuju bangku Riska dan Tiwi dan duduk bersama mereka sambil menunggu sampai tujuan.

Tiwi, Riska, dan Azizah


    Akhirnya! Setelah lama menunggu, akhirnya sampai juga! Saat itu pukul setengah sebelas siang. Wow! Pemandangannya sangat indah. Sebelum bertukar kado, aku berfoto-foto bersama teman-temanku. Aku enggak membawa kamera, dan HP Kakak enggak ada kameranya, jadi fotonya aku ambil dari Facebook Riska dan Martina. Ada foto yang di-edit sama Riska.


Ini foto yang di-edit sama Riska :)
Aku, Martina, Riska, dan Fera

Aku, Annisa, dan Martina

Martina, aku, dan Annisa

    Setelah itu, semua murid kelas VI membentuk lingkaran. Pak Halim berbicara sebentar, kemudian Bu Guru memberikan nomor untuk tukaran kado. Aku mendapatkan nomor 42. Lalu aku pergi mengambil kado. Saat itu aku termasuk yang terakhir mengambil kado. Aku mencari kado yang dibungkus dengan nomor 42. Akhirnya, aku menemukannya setelah membolak-balikkan kado yang belum diambil oleh teman-temanku. Aku kembali ke lingkaran kelas VI dan membuka kado yangg kudapat. Ternyata, aku mendapatkan sandal untuk laki-laki!! Yaah... Ukurannya juga kebesaran. Untunglah, salah satu anak laki-laki, yaitu Galih mendapat sandal perempuan bergambar Hello Kitty. Akhirnya, tukaran, deh. Aku memakai sandal itu untuk bermain air. Setelah tukaran kado, aku dan teman-teman makan. Kan lapar, setelah perjalanan jauh dari rumah. Aku makan makaroni yang berbentuk ulir dan berbentuk cangkang. Entahlah, sebetulnya, sebelum direbus, di kemasannya tertulis makaroni keong, bukan cangkang. Tetapi, menurutku lebih mirip cangkang kerang. Hehehe... Saat aku makan, hujan turun, walau tidak terlalu deras. Hujan turun pada saat yang tidak tepat. Selesai makan, aku memakai topi dan membawa baju untuk main air, lalu bersama teman-temanku menuju ke bis. Aku ke bis niatnya untuk ganti baju. Tapi ketika masuk ke bis, ada Surya lagi makan sendirian tanpa teman. Dia makan di bangku aku dan Martina, lagi! Awalnya kami izinkan, tetapi setelah selesai makan dan pergi keluar bis, ternyata dia makannya berantakan! Ada-ada saja, si Surya.
Kemudian, aku ganti baju di belakang kursi yang paling belakang. Ada hal yang lucu, ketika aku sudah selesai ganti baju dan gilirannya Martina, tiba-tiba dia berteriak minta tolong. Semua langsung panik.
    "Ada apa! Ada apa!" semua berseru.
    "Celanaku enggak bisa keluar dari telapak kaki! Tolongin keluarin, dong!" kata Martina di belakang tirai yang ada di tempat meniympan barang.
Kirain ada apa. Aku langsung membantunya, tetapi dia malah menarik kakinya. Ribet banget! Banyak yang menunggu. Akhirnya Martina selesai juga. Tetapi, aku masih membantu Azizah dan Annisa untuk menutupinya dengan tirai selagi mereka mengganti baju. Kemudian, Martina, Tiwi, dan Riska pergi duluan. Aku meminta tolong Martina membawakan baju gantiku ke tempat menaruh tas-tas. Setelah Azizah dan Annisa selesai, kami pergi menyusul teman-teman. Hujan pun sudah mereda.
    Sampai di pesisir pantai, ternyata mereka sudah basah kuyup. Mereka mengajakku berjongkok dan membiarkan tubuh kita diterjang ombak. Aku menolaknya, karena aku tidak berani. Aku dan Azizah berpegangan tangan. Aku sudah lama tidak ke pantai, sementara Azizah belum pernah ke pantai, yang berarti ini yang pertama kalinya. Kakiku perih, yang lain juga mengakui. Aku menuju ke perairan yang dalamnya setinggi lutut. Di situ banyak batu. Ada juga kerang. Kami mengumpulkan yang bagus-bagus lalu menaruhnya di pasir. Rencana awal, kami ingin membuat istana pasir. Hehe, seperti anak kecil saja. Tapi, enggak ada yang membawa ember. Jadi kami bermain-main dengan pasir yang basah. Aku akhirnya berani diterjang ombak, walau kalau ada ombak masih berlari menghindar. Menurutku, ombaknya mengganggu, soalnya kalau aku sedang meraba-raba pasir dengan telapak kakiku, dan ombak datang, aku harus menghindar ke arah pantai dan kehilangan kerang dan batu yang ada di dasar. Aku bermain cukup lama. Tiba-tiba, ketika aku sudah akan selesai dan hendak ke pesisir pantai, aku dimakan ombak yang cukup besar. Sebenarnya, aku sudah menyadari keberadaan ombak itu, tetapi aku sulit berlari di dalam air. Sementara, yang lain sudah di tepi pantai. Padahal beberapa langkah lagi aku akan sampai di air yang tingginya semata kaki. Aneh, padahal aku enggak jauh-jauh dari pantai dan airnya setinggi lutut. Kalau teman-temanku yang ada di perairan yang lebih dalam, mereka lebih beruntung. Mereka hanya terdorong ke arah pantai dan airnya menjadi tinggi. Kalau aku, airnya sudah menjadi ombak yang tinggi. Aku hampir terjatuh, untung aku langsung berdiri. Hm, sebenarnya tinggi ombak itu setinggiku, tetapi, aku ini kan sudah termasuk anak paling tinggi di kelas VI. Aku sempat mencicipi air laut itu. Asin bukan main! Aku bukan sengaja melakukannya, tetapi tidak sengaja mengenai lidahku. Aku tak pernah berpikir kalau air laut itu akan seasin itu, soalnya aku belum pernah merasakan air laut dengan lidah sendiri, dan itupun pertama kalinya. Mataku perih, begitu juga betisku, tetapi tanganku tidak. Aku menggerutu kepada teman-temanku dan menceritakan kejadian tadi.
    "Huuh, baju bagian belakangku basah, gara-gara ombak itu! Kalian melihatnya, kan?" ceritaku kepada teman-teman.
    "Aku lihat Ashira sudah hilang pas aku lihat ke belakang. Ternyata ada ombak!" kata Riska. Sebenarnya, aku sempat tertawa sebelum ombak itu menerjangku, soalnya ombak itu seperti mengejarku karena lapar.
    "Ashira, kita senasib. Aku juga dimakan ombak tapi kamu sih enak, tinggi! Jadi bisa langsung berdiri! Aku kan pendek!" cerita Martina.
    Sampai di tempat aku menaruh tas, ada Annisa yang memberitahuku kalau ada SMS dari Mama. Tas kecil yang berisi HP memang aku titipkan kepada Annisa. Lalu, aku dan Martina mengambil handuk untuk ke kamar mandi. Aku enggak tahu ada kamar mandi. Jadi waktu ganti baju untuk main air di bis saja. Sesampai di sana, ternyata harus bayar Rp2.000,00. Aku lupa bawa uang, jadi dibayarin dulu sama Martina. Lalu kami mandi. Selesai mandi, kami kembali ke tempat kami menaruh tas. Aku menyisir rambutku di bis lalu aku diolesi minyak kayu putih oleh Bu Guru. Aku teringat dengan janjiku untuk membawa oleh-oleh untuk Kakak. Lalu aku melihat-lihat kalung yang dijual. Aku membeli kalung hati yang ada kuncinya, supaya sama dengan yang dibeli oleh Martina. Kalau kata Novi, aku dan Martina seperti Upin & Ipin. Setelah jajan ini-itu, semua anak kelas VI kembali ke bis. Hawa panas di bis membuat kami yang baru mandi keringatan. Walaupun di luar gerimis, tapi di bis tetap panas. Lalu Lila mengajakku beli siomay di dekat tempat sekolah lain berteduh sehabis bermain di pantai. Sekolah itu adalah sekolah yang dikepalai oleh kepala sekolahku yang dulu, Bu Idawati. Ada Bu Rumi juga yang mengajar di sekolah itu dan sekolahku. Ketika sudah kembali ke bis, ternyata bis siap dijalankan. Oh, aku tukaran bangku dengan Fikri dan Agam. Jadi aku keempat paling depan. Setelah Bu Guru mengabsen, bis berjalan. Belum lama berjalan, bis berhenti untuk anak-anak yang ingin berbelanja di sebuah pasar yang menjual pernak-pernik Pantai Legon Prima Anyer. Aku hanya membeli gantungan tas kura-kura untuk Kakak. Aku ditipu oleh mbak penjualnya. Katanya harganya Rp10.000,00, tapi ketika orang lain yang tanya, bilangnya Rp5.000,00. Kan jadi sebal! Sebagai bukti, di keranjangnya ditulis harganya Rp5.000,00, dan ketika aku menanyakan harga, dia bilang,
    "Harganya Rp5.000,00... Eh!! Rp10.000,00 deh!".
Aku tak mau bilang, soalnya aku malas kalau harus ngomong ke mbak itu lagi. Oh ya, ada anak seumuranku memakai topi merah yang tiba-tiba memiringkan badan dan menyapaku. Aku heran, soalnya aku enggak kenal dengan anak itu. Mungkin dia kira aku salah seorang temannya dan aku mirip dengan temannya itu. Dia bilang, "Kok ngomong sama anak sekolah lain?". Aneh kan?
    Aku kembali ke bis. Bis mulai berjalan lagi. Dan... Terjadilah perdebatan memperebutkan kalung. Semua berawal ketika Martina dan aku sedang mengeluarkan kalung yang tadi dibeli. Lucky melihatnya dan meminta untuk menukar kalung itu dengan dua kalung dengan kunci yang besar. Aku menolaknya, Martina juga begitu. Tapi, tiba-tiba Galih menyambar kalung Martina dan mengambil kuncinya. Lucky jadi tambah ingin menukar kalungnya. Lalu, barulah perdebatan yang sebenarnya dimulai antara Lucky, Galih, dan Martina. Sebenarnya, aku juga diminta Lucky untuk menukar kalungku. Tapi, aku sudah bilang tidak ikut campur dalam urusan kalungnya. Teman-temanku yang lain inginnya hanya kuncinya, padahal kuncinya biasa saja. Dan karena mereka tak bisa memintanya pada Martina, mereka memintanya padaku! Tentu saja aku enggak kasih. Oh ya, aku punya foto Lucky. Dia memang paling tinggi di kelas, tapi juga narsis!

Lucky yang aneh
    Berita buruk datang. Kalung Martina akhirnya diambil sama Lucky. Dan ini berarti kalung Martina tidak sama lagi denganku. Oh ya, kata teman-temanku, kalau ke pantai tidak boleh pakai baju merah atau hijau. Apa?! Tapi aku sih tidak percaya yang begitu-begituan. Ketika menjelang adzhan Maghrib, bis berhenti di sebuah tempat peristirahatan bagi yang ingin buang air. Aku keluar bis dan berfoto-foto.


Martina & Ashira

 Riska & Martina

    Setelah pada salat Maghrib, kami melanjutkan perjalanan. Hari sudah gelap. Di bis, aku main HP. Aku iseng SMS Novi yang nomor HP-nya baru kudapat. Aku lalu memilih tidur.
    "Eh, si Ashira udah tidur, ya? Aku penasaran, pengin lihat Ashira tidur," kata Novi.
    "Hey! Ngapain?!" kataku tak mau diganggu.
Aku pun tidur. Lampu di dalam bis juga sudah dimatiin. Jadi bisa tidur dengan tenang. Yang bangun juga sedikit, paling cuma main HP. Tiba-tiba HP-ku berbunyi keras sekali.
    "Itu HP kamu? Keras banget!" tanya Martina.
    "Iya...," jawabku mengeluarkan HP dari tas. "Halo? Belum, masih jauh banget. Lagi di... Enggak tau, gelap! Yaudah, daah..". Tidur lagi.
    Aku terbangun. Sekarang lagi di Pamulang. Berarti sebentar lagi. Lampu di dalam bis dinyalakan. Setelah mungkin 15 menit kami sampai di sekolah. Aku juga sudah dijemput. Lalu aku keluar bis dan pulang naik motor. Aah... Sampai rumah juga. Tour kali ini sangat menyenangkan! Lebih menyenangkan daripada study tour bulan Oktober 2013 dan bulan Maret 2012. Sungguh tour yang tak terlupakan!!!

1 comments:

Martina solihatun said...

Hai, salam kenal. Aku Martina solihatun. lihat blog aku ya?? Martina's Diary