Friday, December 20, 2013

Apakah Aku Sahabatmu?

    Hai, namaku Kania Angelina. Panggil aku Kania. Aku lahir pada tanggal 24 September 2001. Kini, aku sudah kelas VI. Di sekolah, di antara semua teman-teman sekelasku, aku paling dekat dengan empat orang teman dekatku, yaitu Naisha, Kirana, Aulia, dan Anita. Tetapi, aku lebih tua daripada mereka semua. Mereka lahir pada tahun 2002.

    Pagi yang cerah dan indah ini, ketika burung-burung berkicau dengan merdunya dan mentari bersinar dengan hangatnya membuat tubuh terasa segar. Aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Oh ya, hari ini adalah hari pertamaku di semester II. 
    "Assalamu 'alaikum! Aku berangkat, ya!" seruku di depan pintu rumah.
Aku terdiam sejenak. Setelah mendengar jawaban salamku, aku segera berangkat. Di perjalanan menuju ke sekolah, aku bertemu dengan Kirana yang sedang menggendong tas hijaunya. 
    "Kirana!" seruku dari belakang. "Tunggu aku!".
Kiran menoleh ke belakang lalu berhenti. Aku sedikit berlari menghampirinya. Lalu ia tersenyum dan mengajakku berangkat bersama.

Di sekolah...
    Teeeeet... Teeeeet... Bel berbunyi. Kami masuk ke kelas VI. Sekarang kami akan diajar oleh Pak Rudy, guru IPS. Seperti biasa, Pak Rudy masuk dengan gayanya yang khas, yaitu berjalan dengan tangan kanan memegang handphone-nya dan tangan kirinya di pinggang. Lalu, Pak Rudy duduk di mejanya.
    "Nah, ada pengumuman. LKS pelajaran semester II silakan beli di Bu Wulan. Harganya Rp 75.000,00. Tapi, Bapak harapkan kalian semua membeli LKS-nya sebelum tanggal 31 Januari," kata Pak Rudy menjelaskan. "Sekarang, kalian pakai buku paket ini dulu," lanjutnya mengeluarkan buku paket IPS dari lemari.

Ketika istirahat...
    Aku, Aulia, Kirana dan Naisha berkumpul di meja Anita. Kami memiliki kebiasaan, yaitu berunding untuk kemana pada waktu istrahat. Hahaha...
    "Ke perpustakaan, yuk!" usulku mengacungkan telunjuk.
    "Ah, aku lapar. Ke kantin saja baru ke perpustakaan," ujar Naisha tidak setuju denganku.
Ternyata, yang lain setuju. Uuh... Kenapa, sih, kalau aku yang berbicara tidak ditanggapi? Tapi, biarlah. Yang penting tetap bersama.
    Di kantin, aku memesan jus mangga. Anita memesan sup makaroni. Naisha memesan soto ayam. Kirana memesan mixfruit juice. Sedangkan Aulia ingin memesan jus mangga juga sepertiku. Tetapi, buah mangganya habis. Jadi, diganti dengan jus jeruk. Akan tetapi, ia tak suka.
    "Kania, tukar, dong! Aku enggak mau jus jeruk. Kan jus milikmu belum kamu minum," pintanya.
Aku mendelik kesal.
    "Tapi, ini punyaku. Kan aku memesannya terlebih dahulu," ujarku tak mau kalah.
    "Baiklah, kalau begitu," ucapnya pelan tapi terlihat kesal.
Tak ingin kami bertengkar, akhirnya aku memberikan jus mangga milikku kepada Aulia.
    "Ini. Terserah apa katamu, deh!" ujarku menggeserkan jusku ke depan meja Aulia. Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum. Hatiku lega. Lalu ia menggeserkan jus jeruknya ke depan mejaku. Kirana, Anita dan Naisha diam saja.
    Setelah selesai makan di kantin, ternyata waktu istirahat masih lama. Enaknya bersekolah di sekolahku itu istirahatnya ada yang pertama dan yang kedua. Waktunya juga lama, yaitu satu jam. Sisa waktu istirahat kami habiskan untuk membaca buku di perpustakaan. Aku sangat suka di perpustakaan sekolahku karena banyak buku-buku menarik. Yang paling aku suka adalah buku ensiklopedia tentang sejarah-sejarah dan peninggalan dunia. Setelah bel masuk berbunyi, kami masuk ke kelas.

*  *  *

    "Kelas VI ini, kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh untuk diterima di SMP Negeri..."
Begitulah kata Kakek ketika sedang menasehatiku waktu belum masuk sekolah, tepatnya ketika liburan kenaikan kelas dan aku akan naik ke kelas VI. Nilaiku pada waktu itu cukup lumayan karena aku masuk 10 besar dan mendapat ranking 4.
    Sekarang sudah memasuki bulan Februari dan aku mulai belajar dengan serius. Sekarang aku tak peduli lagi kalau ada yang tidak suka dengan kelakuanku. Kalau waktu istirahat, aku selalu menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca buku berbagai pelajaran dan informasi. Jadinya, aku tidak lagi bergaul dengan teman-temanku itu. 
    "Ini bukan masalah teman, ini adalah masalah cita-cita. Tugasmu sekarang adalah belajar. Setelah semua selesai dan kamu mendapat nilai yang memuaskan, baru boleh bersenang-senang walau tidak berlangsung lama..."
    Kali ini, Nenek yang menasehatiku pada akhir bulan Januari yang lalu. Seperti kata pepatah, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian".

*  *  *

    Tanpa sepengetahuanku, Kirana mulai mengerti keadaanku saat ini. Ia mulai sadar bahwa sekarang bukan saatnya bersenang-senang. Sekarang adalah saatnya belajar. Belajar untuk meraih impian dan cita-cita. Pada akhirnya...
    "Kania, aku minta maaf, ya, karena aku tidak lagi bergaul denganmu. Aku malah mengikuti mereka yang tidak memedulikan perasaanmu. Aku sepertinya tak layak menjadi sahabatmu," ujarnya suatu sore ketika ia menghampiri rumahku.
    "Tidak apa-apa. Menurutku, kamu pantas menjadi sahabatku," balasku sambil tersenyum.
Aku memeluknya. Ia balas memelukku.

    Suatu pagi di hari kelima setelah kejadian itu, ada Aulia, Naisha, dan Anita menghampiri kami berdua.
    "Kania, Kirana, kenapa kalian tak lagi bergaul dengan kami?" tanya Anita.
    "Kami berdua memiliki alasan yang jelas, yaitu kami sadar bahwa kelas VI ini bukan saatnya bermain dan bersenang-senang," jawab Kirana dengan nada pelan.
Mereka terdiam dan saling memandang. Lalu pergi meninggalkan kami. Aku mengira mereka meremehkan kata-kata yang tadi diucapkan Kirana.

Empat bulan kemudian...
    Ujian telah selesai beberapa hari yang lalu. Sekarang saatnya pengumuman nilai ujian yang kemarin. Aku gugup. Akan tetapi, aku sudah berusaha sebaik mungkin. Aku pun selama empat bulan terakhir ini sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun kepada Naisha, Anita dan Aulia. Tetapi, aku ingin tetap bersahabat dengan mereka. Mungkin aku akan meminta maaf kepada mereka setelah ini, pikirku. Setelah empat bulan lamanya tidak bermain, aku rindu sekali dengan mereka. Sering aku lihat, mereka tidak lagi bergaul bersama. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Apa yang sedang terjadi? Aku berpikir sejenak. Aha! Aku mendapat ide!
    "Nilai tertinggi pada Ujian Nasional ini diraih oleh...," Bu Fauziah mengumumkan. "Diraih oleh... Kania Angelina!!!" seru Bu Fauziah dengan suara lantang.
Aku terlompat girang. Senangnya aku!!

Ketika istirahat...
    Aku menghampiri Naisha yang sedang duduk sendirian di bangku taman sekolah sambil memegang sebuah pulpen.
    "Ngg.. Hai," sapaku ragu-ragu.
Naisha memandangku lalu tersenyum.
    "Hai juga," balasnya. 
Aku duduk di sampingnya.
    "Sudah empat bulan tidak bermain, bahkan berbicara. Bagaimana kalau kita bermain dan bersenang-senang sebelum waktu kita habis?".
    "Bagaimana, ya? Baiklah. Mari!" ajaknya menggandeng lenganku. "Oh ya, selamat ya mendapat nilai yang tertinggi. Aku juga mendapat nilai yang memuaskan, lho!" lanjutnya.
    "Terimakasih banyak, ya. Selamat juga untukmu! Bagaimana kalau kita ajak yang lain?"
    "Setuju!!" serunya yang membuat hatiku senang karena akhirnya perkataanku disetujui.
Kami mengajak Kirana tentunya, Aulia dan Anita untuk bermain seperti dulu.
    
    "Teman-teman, aku... Ehh... Sebenarnya... Apakah kalian menganggapku sebagai sahabat?" tanyaku gelagapan. Semua terdiam.
    "TENTU SAJA!!" seru mereka berempat serempak sambil memelukku.
Oh, Tuhan, apakah ini nyata? Walau mereka sering menyuruhku atau mengancamku, ternyata itulah cara mereka menunjukkan bahwa aku sahabatnya! Terimakasih, sahabat-sahabatku karena telah menganggapku sebagai sahabat kalian! Aku doakan cita-cita kalian tercapai!

TAMAT

2 comments:

Tata Wanita said...

Ashira ~~ Masih inget Aku nggak?

Ashira Day said...

Tata Wanita: Masih, dong! Berarti kamu baru baca, ya? Hehe.