Monday, August 5, 2013

The Mysterious House 4

    Aku mengajak Kak Lily ke kamarku. Sebelum aku dan Kak Lily masuk, aku sudah melihat Michael pergi ke arah lain. Kak Lily menepuk pundakku. Aku menoleh.
    " Sebenarnya ada apa, sih?" tanya kakakku .
    " Ngg... Kan aku lihat hantu, dan hantu itu mau merasuki Kakak, jadi aku ajak Kakak menghindar. Dan sekarang Kakak aman," jawabku menjelaskan.
    " Kamu kok bisa melihat hantu? Bukankah kamu pernah bilang kepadaku bahwa kamu beruntung tidak bisa melihat hantu yang menyeramkan?" tanyanya lagi.
Aku hanya menaikkan bahu. Tidak ingin rahasiaku terbongkar. Aku meninggalkan Kak Lily di kamarku yang sedang melamun kebingungan. Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan Ibu dari bawah. Aku mencari asal suara tersebut di lantai satu. Aku melihat Ibu berbaring pingsan di lantai dapur. Sepertinya Ibu sedang menyapu. Itu terlihat karena Ibu berbaring sambil memegang sapu. Aku cemas. Aku segera memanggil Michelle. Ia lalu berkata di dalam pikiranku : " Ibumu telah kerasukan kakakku," ujar Michelle lalu keluar dari tubuhku. Ia menaruh tangannya di dada Ibu. Michelle sudah seperti orang yang sering menyembuhkan orang yang kerasukan. Entah apa namanya. Aku lupa. Akhirnya, setelah entah apa yang dilakukan Michelle, Ibu pun sudah pulih kesadarannya. Lalu Ibu bangkit dan naik tangga sambil berjalan tehuyung-huyung. Michael pergi sambil menatap aku dan Michelle dengan tajam. Lalu aku melihat Michelle menatap Ibu yang sedang berjalan. Ada apa dengannya?

    " Kenapa? Kau terlihat sedih," tanyaku. Tiba-tiba air mata Michelle terjatuh. Air mata tu berceceran di lantai. Aku menyentuh lantai yang berceceran air mata, tapi tidak basah.
" Ibumu mirip dengan Ibu ku. Aku rindu dengan Ibu ku. Walau dia telah membunuhku, aku tetap menyayanginya. Ibu membunuhku karena bertengkar dengan Ayahku. Ibu pernah berjanji kepada Ayahku, apabila Ayah tidak meminta maaf terlebih dahulu, Ibu akan membunuh aku dan kakakku suatu hari nanti," kata Michelle di dalam pikiranku dengan sedih sekali. Aku ikut sedih. Bayangkanlah, betapa sedihnya kisah hidup Michelle. Bayangkanlah, memiliki seorang ayah yang tidak peduli, memiliki ibu yang membunuhnya, dan memiliki seorang kakak yang pendendam. Aku ingin sekali membantu Michelle, namun, apa yang bisa kuperbuat kepada seorang hantu? Menyentuhnya pun tidak bisa. Aku merasa bersalah.
    " Ya sudah, Michelle. Mulai sekarang aku akan mencoba menjadi teman terbaikkmu. Apakah kamu setuju?" kataku mencoba membantunya. Entah dengan cara apa.
Michelle mengangguk. Terlihat senyuman kecil di wajahnya. Aku pun ikut tersenyum. Meskipun dia hanyalah hantu, aku akan berusaha membantunya. Aku tahu, semasa hidup, Michelle pasti seorang anak yang selalu kesepian. Maka, aku akan bersedia menjadi sahabatnya. 
    
Dua tahun kemudian...
    Kini, usiaku sudah 11 tahun. Lima hari lagi, aku akan berulang tahun. Ibu dan Ayah akan memberiku sebuah hadiah. Tapi, aku belum diberi tahu apa hadiah yang akan diberi Ibu dan Ayah. Sedangkan Kak Lily, kakakku itu hanya akan memberi kartu ucapan selamat.
Lima hari kemudian, ketika pesta sudah selesai, aku heran. Michelle tak terlihat dari awal pesta. Aku mencari di ruang tamu, lalu di ruang makan, dan di halaman rumah. Aku pun menyerah. Lalu, aku ke kamarku. Aku melihat Michelle berada di dekat jendela. Ia menulis sesuatu di secarik kertas di atas meja belajarku yang di dekat jendela. Isinya :
" Emily, hari ini adalah hari terakhirku menjadi sahabatmu. Aku sudah meminta maaf kepada kakakku. Ia menerima permintaan maafku dan mengajakku pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya. Ini hadiah dari ku. Kakek yang membungkusnya dan mengantarkannya ke sini lewat jendela menggunakan tangga. Tapi, aku yang memilihnya. Ku harap kamu menerimanya. Sekarang sudah saatnya aku pergi. Selamat tinggal". Michelle tersenyum untuk terakhir kalinya. Ia lalu keluar dan terbang lalu menghilang ketika hembusan angin menuju ke arah barat. Aku sedih bercampur gembira. Sedih akan Michelle yang telah meninggalkan ku, dan gembira karena ia sudah tenang di alam lain. 
Michelle... Aku berharap semoga kita akan selalu menjadi sahabat. Walau aku seorang manusia dan kamu adalah hantu, tali persahabatan kita takkan pernah putus. Takkan pernah putus...

THE END

6 comments:

Ruth Ardita said...

Saya suka karanganmu itu. Saya telah membacanya dari bagian 1 sampai bagian ke-4 ini.

Ashira Day said...

Makasih banyak. :)

Noorma Fitriana M. Zain said...

baguuusss deekk..

Noorma Fitriana M. Zain said...

dek Ashira,, udah cek nama yang beruntung dpt pulsa?

km salah satunya./..

veronica chevinka said...

Bagus banget Kak Ashira salam kenal aku Veronica.Kakak suka cerita horor ya????

humaira darmansyah said...

salam kenal ya kak,, aku humaira cerita kakak bagus banget deh aku suka sekali, tapi memang sih agak ngeri-ngeri gitu pas lagi bacanya,oh ya! aku juga suka cerita horor, bikin lagi dong kak cerita horor yang lainnya, makasih 😊