Wednesday, July 31, 2013

The Mysterious House 3

    Akhirnya, aku sampai ke sebuah toko yang gelap dan tidak jauh dari sekolahku. Sesampai di depan pintu toko yang gelap gulita itu, tubuh ku kini sudah bisa bergerak dengan bebas lagi. Aku segera melarikan diri dari toko itu.
    " Hei, tunggu!" teriak seseorang dengan suara yang merintih.
Aku menoleh, ada seorang kakek yang sepertinya pemilik toko itu. Aku menghampirinya.
    " Ada apa, Kek?" tanyaku heran.
    " Ayo, masuk dulu. Aku ceritakan di dalam," ujar kakek pemilik toko.
Ia menuntunku ke dalam dan mempersilakan duduk di atas karpet berwarna coklat bermotif tutul-tutul.
    " Kata dia...," ucap Kakek memulai sambil menunjuk ke samping sofa kecil yang sedang ia duduki.
    " Siapa?" tanyaku heran.
    " Ternyata kau tak bisa melihatnya. Dia adalah seorang hantu. Namanya Michelle. Kau sudah pernah menerima suratnya, bukan? Akulah yang menulisnya," kata Kakek.

    " Bagaimana Kakek mengerti apa yang diucapkan hantu? Lagipula, hantu itu tak bisa berbicara kepada manusia," kataku lagi.
    " Oh, aku bisa melihat hantu sejak kecil. Michelle menggunakan isyarat tangan untuk meminta pertolonganku. Nah, kata Michelle, kakaknya yang bernama Michael adalah seorang pendendam. Michael mengira yang membunuhnya adalah orang lain yang menyelinap ke rumahnya. Michael akan selalu dendam kepada orang yang menghuni rumah dulunya. Jadi berhati-hatilah. Apabila kamu ada kesempatan, datanglah ke sini. Aku akan memperlihatkan lukisan ku bagaimana rupa Michelle. Oh ya. Aku adalah Kakek Michelle. Sekarang umurku sudah 96 tahun," kata Kakek panjang lebar.
    " Bukankah peristiwa itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu?" tanyaku.
    " Itu kan berita yang dikarang-karang saja. Yang aslinya, sudah terjadi 5 tahun lalu," jawab Kakek.
Akhirnya, aku meminta diri untuk pulang. Lalu pulang ke rumah.
    Di rumah, Ayah dan Ibu menanyakan aku ke mana saja. Khawatir sekali.
    " Tenang, Bu, Yah. Aku hanya membantu Pak Hasan menyapu halaman sampai bersih," kataku setengah jujur dan setengah berbohong. Memang benar aku membantu Pak Hasan, penjaga sekolah menyapu halaman sekolah, tapi tidak sampai bersih sekali.
    Aku segera mengganti baju lalu ke ruang makan untuk makan siang. Menu siang ini adalah pizza mozarella, sushi isi ikan salmon, dan ayam panggang. Minumannya, jus pisang dan lemon tea. Aku makan dengan lahap sekali. Nyam... Nyam...

Sorenya...
    Ibu sedang membantu Mbak Nelly, pembantu yang Ibu sewa membersihkan kamar aku dan kamar Kak Lily.
    " Nah, kamarmu sudah bersih, Emily. Sekarang masuklah ke kamarmu," ujar Ibu mempersilakan aku masuk. Waah... Bersih sekali!
Aku masuk lalu menutup pintu kamarku. Aku berbaring di ranjang tidurku. Aah... Sejuknya... Tiba-tiba, jendela kamarku terbuka.
Aah... Paling-paling, si hantu Michelle. Mau apa, dia? Pikirku menduga-duga. Aku segera bangkit lalu menutup jendela.
    " Hei, dimana saja kamu yang bernama Michelle! Ingat, ya, kamar ini memakai AC, jadi jangan seenaknya membuka jendela. Jadi panas, tahu!" kataku yang sudah seperti orang aneh. Soalnya belum tentu dia yang masuk, mungkin saja jendela kamarku terbuka karena hembusan angin kencang.
Aku ini memang tidak bisa melihat hantu, namun bisa merasakan keberadaannya. Aku merasa dia sedang di meja belajarku. Di secarik kertas yang ada di meja belajarku, muncullah huruf demi huruf lalu membentuk suatu kalimat. Tulisan itu berwarna merah darah dan memang sepertinya yang digunakan Michelle untuk menulis adalah darah. Akhirnya, huruf-huruf itu membentuk kalimat :
" Datanglah ke toko Kakek bersamaku. Aku akan mengantarmu". Dan tubuhku langsung bergerak dengan sendirinya lagi. Dalam benakku, aku sudah tahu, bahwa Michelle dan saudaranya lah yang jenazahnya disembunyikan di bawah tempat tidurku. Aku menjadi menyukai hantu Michelle. Dia adalah hantu yang baik hati. Oh ya, aku akan pergi ke toko gelap Kakek dengan berjalan kaki? Dan, Michelle yang mengendalikan gerak tubuh ku seperti bisa membaca pikiranku. Tubuh ku pun berjalan ke bawah, lalu ke lorong di dekat pintu masuk.
    " Bu, aku keluar, ya!" ujarku yang sudah berjalan ke luar rumah. Ku lihat Ibu mengangguk di dalam.
Aku pun ke garasi lalu menaiki sepeda lalu berangkat ke toko Kakek.

Di toko Kakek...
    " Ada apa, Kakek? Oh ya, lukisan Michelle sudah dilukis?" tanyaku kepada Kakek.
Kakek duduk di sofa. Kakek menyuguhkan donat dengan topping krim vanila dan minuman teh hangat.
    " Begini, aku akan memperlihatkan lukisan itu kepadamu," kata Kakek.
Aku memakan donat itu dengan nikmat. Kakek memperlihatkan lukisan itu padaku. Tapi, yang kulihat hanya kosong. Aku menatap Kakek dengan heran.
    " Kamu harus menutup matamu dan menutup telingamu," kata Kakek.
Aku menuruti apa apa katanya.
    " Nah, sekarang buka mata dan telinga mu," kata Kakek beberapa detik kemudian.
   Aku membuka mata dan telinga ku. Dan ku lihat sesosok manusia yang cantik memakai baju terusan bewarna putih yang penuh noda darah di hadapanku. Tangannya banyak luka-luka. Pasti manusia di hadapanku itu adalah... Michelle...

    Sekarang, aku sudah dapat melihat hantu berkat Kakek, walau hanya dapat melihat si dua hantu kembar. Sekarang, aku menjadi sering melihat Michelle mondar-mandir di kamarku. Aku lalu keluar kamar dan ke ruang makan di bawah untuk makan siang. Di ruang makan, hanya ada aku, Kak Lily, dan Ibu serta Michelle yang sedang duduk kursi Ayah. Sedangkan Ayah sedang bekerja di kantor. Menu makan siang kali ini adalah spagghetti, hamburger, kentang rebus, dan ikan salmon dengan kecap asin. Minumannya soda dan air putih. Nikmatnya... Sehabis itu, aku meminum segelas penuh air putih. Tiba-tiba, aku melihat Michael datang. Aku pura-pura tak melihatnya. Ia masuk ke dalam rumah. Aku membuntutinya dari belakang. Lalu, ia menghampiri Kak Lily. Dengan cepat, aku berlari ke arah Kak Lily lalu mengajaknya menghindar. Awalnya, Kak Lily heran karena aku mengajaknya melarikan diri. Namun, aku menjelaskan dengan singkat bahwa aku melihat hantu yang akan merasuki diri Kak Lily.
                
                                 BERSAMBUNG

2 comments:

fitri anita said...

Wah, pintar sekali ashira buat cerita ini ya...

Ashira Day said...

fitri anita: Terimakasih banyak tante.