Monday, July 29, 2013

The Mysterious House 2

    Setelah selesai minum teh bersama, aku segera mengambil handuk lalu ke kamar mandi untuk mandi. Sehabis itu, aku ke kamar lalu belajar di meja belajar. Tiga hari lagi, aku akan besekolah karena saat ini aku sedang libur semester pertama. Jadi, aku sudah kelas 5 semester 2. Walau sudah pindah rumah, aku tetap bersekolah di sekolah yang biasa. Nanti aku bersekolah dengan mobil karena rumahku dengan sekolah menjadi semakin lebih jauh.

Esoknya...
" Hah!" aku terbangun karena bermimpi buruk. Kulihat sudah pukul 05:45.
Aku segera memakai jaket dan celana panjang untuk olahraga atau bisa disebut celana training. Aku ke bawah dan sudah ada Ayah dan Kak Lily menungguku untuk lari pagi. Sedangkan Ibu memasak untuk sarapan. Kata Ibu, hari ini Ibu akan menyewa pembantu. Segera aku keluar gebang menyusul mereka yang sudah berada di luar gerbang.
 
" Tadi malam aku bermimpi tentang dua hantu itu!" ceritaku kepada Kak Lily. Mata kakakku terbelalak.
" Aku juga. Aku bermimpi mereka muncul dari kolong tempat tidurku," kata Kak Lily.
Aku mengangkat kedua tanganku ke atas lalu menyeringai.
" Hooo... Hooo...," ucapku meniru suara hantu-hantu di TV.
" Sudahlah. Itu kuno. Yuk, berangkat. Lihat, tuh, Ayah sudah jauh," kata Kak Lily seperti meledekku.
Huuh... Aku kesal! Ya sudah, aku pun berjalan paling jauh di belakang. Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk pundakku. Tapi tidak sakit, hanya pelan saja. Layaknya seseorang menyapa sahabatnya dengan menepuk pundak sahabatnya. Aku menoleh ke belakang. Dan tidak ada siapa-siapa. Aku bingung.
    " Hei! Jangan melamun!" ujar Ayah yang sudah balik untuk ke rumah lagi. Kak Lily juga sudah akan balik.
    " Sudahlah. Sama saja bohong kamu berlari pagi baru sampai rumah makan yang tidak jauh dari rumah ini. Bisa dibilang terlalu dekat!" kata Kak Lily yang sudah merasa dia-lah yang telah berlari paling jauh sepanjang sejarah keluarga ku. Setelah lamunan ku terbuyar karena teriakan Ayah, aku malah menjadi bertambah jengkel dibilang berlari hanya sampai rumah makan yang dekat dari rumah dan yang padahal sudah lumayan jauh dari rumah.
    Sampai rumah, kakakku tak henti-hentinya memamerkan kehebatannya berlari sangat jauh.
    " Akulah si hebat dan mencatat rekor berlari paling jauh dalam sejarah!" katanya bangga.
    " Huh... belari paling jauh dalam sejarah semut," ujarku mencemooh. Kakakku melotot. Aku langsung diam. Selesai sarapan dan mandi, aku ingin membaca buku novel terbaruku. Di luar, sedang mendung, dan sepertinya akan segera turun hujan. Beberapa saat kemudian sudah hujan deras. Lalu, tejadi kejadian aneh. Jendela kamarku yang terkunci kini tidak terkunci dan terbuka, sehingga tetes-tetes air hujan masuk ke kamarku dan membasahi lantai. Aku yang sedang membaca buku novel terkejut mendengar bunyi rintik-rintik hujan terasa lebih keras. Aku pun menutup kembali jendela kamarku. Tiba-tiba ada secarik kertas yang digulung menempel di kaca jendela kamarku karena terbawa angin. Aku membuka jendela, mengambil gulungan kertas itu lalu menutup jendela kembali. Aku membuka tali yang mengikat gulungan kertas itu lalu membacanya. Isinya:
    " Aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Saudara kembarku dendam terhadap yang berada di rumah ini yaitu kalian sekeluarga. Kalian harus berhati-hati, kalau tidak akan dirasuki oleh saudara kembarku itu".     ~ Michelle Arnold~
    Aku tak mengerti apa maksudnya. Dirasuki? Ada-ada saja. Dari orang tak dikenal, lagi. Aku melanjutkan membaca novelku yang sempat tertunda karena kejadian tadi.

Ketika masuk sekolah...
    Aku berangkat sekolah dengan mobil. Di mobil, aku baru teringat akan surat dari orang yang bernama Michelle Arnold itu adalah surat dari salah satu hantu itu!  
Pasti salah satu ada yang baik hati dan yang satunya pendendam. Oooh.. Aku lah yang pertama kalinya di dunia untuk menerima surat dari hantu! Pikirku malu sendiri sambil senyum-senyum. Tiba-tiba melintaslah sesuatu di pikiranku. Eh! hantu kan sudah mati! Bagaimana dia bisa menulis surat? Pikirku bingung.
    " Emily, kan sudah Ayah katakan jangan melamun. Hobi kamu pasti melamun!" kata Ayah mengingatkan sambil bercanda.
    " Enggak, kok. Aku melamun bukan karena... Yaa... Ngg... Pokoknya aku melamun karena lagi berpikir serius," kataku sulit menjelaskan.
    " Ya sudah. Lihat temanmu sudah menunggu. Sana hampiri. Eits, salam dulu!" kata Ayah mengulurkan tangan. Aku pun salam lalu keluar mobil. Di dekat gebang sekolah, temanku, Stephanie sedang melambai-lambaikan tangannya. Aku pun masuk kelas menaruh tas. Ketika jam pelajaran, aku sulit berkonsentrasi. Padahal, aku selalu menjadi ranking 1 sejak TK. Akhirnya, saat menjawab pertanyaan, aku mendapat nilai 80. Biasanya nilaiku selalu 100. Tapi, tak apa-apa kan kalau sang juara sekali-kali mendapat nilai dibawah 100? Memang benar, nobody's perfect. 

Pulang sekolah...
    Aku pulang sekolah naik mobil angkutan umum. Tiba-tiba ketika aku ingin menandakan kepada supirnya agar aku ingin naik, tubuhku terasa bergerak sendiri. Tubuhku berjalan ke arah berlawanan dari arah rumah. Aku ingin berteriak, tapi nanti disangka orang gila, karena berjalan biasa tapi minta tolong, itu kan aneh.
                                  BERSAMBUNG

0 comments: